Hubungan Tajuk Subjek dan Tesaurus dalam Pengolahan Bahan Pustaka serta Temu Kembali Informasi di Perpustakaan

HUBUNGAN TAJUK SUBJEK DAN TESAURUS DALAM PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA SERTA TEMU KEMBALI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN

cropped-logo-UNS.jpg

Yashinta Endah Kusuma Wardani

D3 Perpustakaan A

Klasifikasi 1

RR. Iridayanti Kurniasih

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2016

KATA PENGANTAR

 

Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, dan hidayah-Nya serta shalawat dan salam sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Hubungan Tajuk Subjek Dan Tesaurus dalam Pengolahan Bahan Pustaka Serta Temu Kembali Informasi Di Perpustakaan”. Tidak lupa ucapkan terima kasih kepada Ibu RR. Iridayanti Kurniasih atas bimbingan selama mata kuliah Klasifikasi 1 dan pihak-pihak yang telah memberi dorongan serta motivasi sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan lancar dan tepat waktu. Tugas ini di buat dengan tujuan untuk memenuhi Ujian Akhir Semester mata kuliah Klasifikasi 1 di Semester 2.

Makalah ini membahas tentang hubungan antara tajuk subjek dan tesaurus dalam pengolahan bahan pustaka, baik menjelaskan tajuk subjek maupun tesaurus itu sendiri bahkan menjelaskan bahan pustaka serta bagaimana temu kembali informasi di perpustakaan terjadi. Meskipun makalah ini berjudul “Hubungan Tajuk Subjek Dan Tesaurus dalam Pengolahan Bahan Pustaka Serta Temu Kembali Informasi Di Perpustakaan”, makalah ini tidak secara langsung membahas tentang hubungan tajuk subjek dan tesaurus dalam bahan pustaka, sehingga memerlukan pemahaman khusus mengenai hubungan antara tajuk subjek dan tesaurus terhadap bahan pustaka, sama halnya pada temu kembali informasi di perpustakaan.

Dan untuk mendukung isi pembahasan makalah, saya mencari referensi baik dari buku, jurnal, atau bahkan informasi yang terkait di internet. Saya menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik maupun saran yang membangun demi perbaikan dan kesempurnaan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.

 

 

Surakarta,   Mei 2016

Penulis

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Perpustakaan sebagai pusat informasi berorientasi untuk mendistribusikan tersebut adalah melalui penelusuran atau temu kembali informasi yang dilakukan oleh pengguna. Penelusuran atau sistem temu balik informasi merupakan hal penting yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah perpustakaanan karena tanpa sistem temu balik informasi, pengguna akan mengalami kesulitan mengakses sumber daya informasi yang tersedia di perpustakaan. (Menurut Sulisyo Basuki, 1992) temu kembali informasi sendiri merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan dan memasok informasi bagi pemakai sebagai jawaban atas permintaan atau berdasarkan kebutuhan pemakai.

Dalam temu kembali informasi, selalu dikaitkan dengan adanya bahan pustaka yang tidak lepas dari adanya tajuk subjek dan tesaurus. Tajuk subjek adalah kata, istilah atau frase yang digunakan pada katalog atau daftar lain dalam perpustakaan untuk menyatakan tema atau topik suatu bahan pustaka (J.N.B. Tairas dan Soekarman, 1996 : ix). Sedangkan, tesaurus adalah alat untuk pengawasan kosakata (vocabulary control). Dalam identifikasi informasi salah satu sistem temu kembali informasi yang umum dikenal di perpustakaan ialah katalog perpustakaan baik dalam bentuk buku atau dalam bentuk kartu maupun dalam bentuk katalog elektronik yang dilengkapi dengan mesin pencari melalui perangkat komputer.

 

Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud temu kembali informasi di perpustakaan?
  2. Bagaimana hubungan tajuk subjek dan tesaurus dalam bahan pustaka?
  3. Bagaimana bahan pustaka di perpustakaan?

 

Tujuan

  1. Untuk memahami temu kembali informasi di perpustakaan.
  2. Untuk memahami hubungan tajuk subjek dan tesaurus dalam bahan pustaka.
  3. Untuk memahami bahan pustaka dalam perpustakaan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Temu Kembali Informasi

Temu kembali informasi adalah sebuah media layanan untuk memperoleh informasi atau sumber informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Sistem temu kembali informasi merupakan sistem informasi yang berfungsi untuk menemukan informasi yang relevan dengan kebutuhan pemakai. Sistem temu kembali informasi berfungsi sebagai perantara kebutuhan informasi pengguna dengan sumber informasi yang tersedia. Salah satunya system temu balik informasi di perpustakaan merupakan unsur yang sangat penting. Oleh karena jenis dan jumlah informasi sangat banyak maka untuk mempermudah pemakai dalam menelusuri informasi yang dibutuhkan, diperlukan suatu sarana untuk membantu penelusuran. Sarana yang sangat tepat dipakai oleh para pengguna informasi diantaranya adalah perpustakaan. Untuk itulah di perpustakaan memerlukan temu balik. Tanpa sistem temu balik atau temu kembali informasi, pengguna akan mengalami kesulitan mengakses sumber daya informasi yang tersedia di perpustakaan.

 

Tajuk Subjek

Subjek dari suatu buku adalah tema atau topik yang diolah oleh pengarang. Tajuk subjek adalah kata, istilah atau frase yang digunakan pada katalog atau daftar lain dalam perpustakaan untuk menyatakan tema atau topik suatu bahan pustaka (J.N.B. Tairas dan Soekarman, 1996 : ix). Tajuk subjek adalah kata atau kumpulan kata yang menunjukkan subjek sebuah buku (Sulistyo Basuki, 2010 : 6.33). Suatu entri subjek adalah kartu katalog dengan tajuk subjek sebagai media penyusun (filing medium). Bahan-bahan pustaka diwakili dalam katalog oleh entri-entri subjek untuk memberi informasi yang lengkap bahan-bahan apa yang ada tentang subjek tertentu dalam perpustakaan. Contoh entri subjek dalam bentuk kartu :

HUKUM – KAMUS

Kamus Hukum / J.C.T. Simorangkur, Rudy T.

Erwin, J.T.Prasetyo. – Cet.2 – Jakarta: Aksara Baru, 1980.

192 hal.; 20 cm.

Dari contoh di atas, tajuk subjeknya adalah HUKUM – KAMUS. Unsur yang penting dari entri itu adalah tajuk subjek. Tajuk subjek tercantum pada bagian teratas dari kartu. Itulah sebabnya ia disebut tajuk (heading).

 

Tujuan Tajuk Subjek

Tujuan dari tajuk subjek adalah mendaftarkan di bawah satu kata atau frase yang seragam semua bahan pustaka tentang satu subjek tertentu yang dimiliki oleh perpustakaan.

subjek dari satu buku mempunyai tema atau topik yang sama walau berbeda judul, sehingga dapat terkelompokkan dan mudah dalam melakukan temu balik informasi

Menurut Sarwono (2007)

  1. Adanya proses temu kembali informasi;
  2. Karena adanya kebutuhan informasi bagi pengguna perpustakaan;
  3. Banyaknya koleksi bahan pustaka di perpustakaan;
  4. Menyusun atau menyimpan di rak mempermudah petugas pada pengaksesan;
  5. Informasi langsung dapat dipecah-pecah;
  6. Informasi dapat digolongkan berdasarkan kelas ilmu pengetahuan menjadi seri kategori yang disusun secara logis.

Sulistyo Basuki, 2012 : 6.33

  1. Menyediakan akses berdasarkan subjek ke semua materi yang relevan;
  2. Menyediakan akses subjek ke materi perpustakaan melalui semua prinsip penataan subjek yang sesuai;
  3. Menyatukan materi dengan subjek yang sama;
  4. Menunjukkan afiliasi diantara berbagai jenis subjek. Subjek yang dikaji, metode, atau titik pandang atau aplikasi pengetahuan;
  5. Menyediakan entri ke setiap subjek pada setiap tingkat analisis, mulai dari yang paling umum sampai ke paling spesifik;
  6. Menyediakan entri ke setiap kosa kata yang lazim digunakan oleh kelompok pemakai, awan maupun khusus;
  7. Menentukan istilah yang paling spesifik.

Tesaurus

Tesaurus dalam dunia perpustakaan dikenal pada akhir tahun 1950-an. Kemunculannya seiring dengan kemunculan sistem pengindeksan pascalaras yang membutuhkan istilah yang sederhana dengan tingkat pralaras yang rendah. Tesaurus memulai peranannya dalam dunia perpustakaan pada awal tahun 1950-an dan telah digunakan untuk mengindeks secara luas.

Tesaurus sebagai suatu sarana temu kembali, atau yang disebut juga sebagai tesaurus yang terstruktur, menampilkan hubungan semantik antar istilah. Sarana ini dikonstruksi untuk membantu proses pengindeksan dan temu kembali. Tesaurus adalah alat untuk pengawasan kosakata (vocabulary control). Tesaurus berfungsi untuk membant meningkatkan kualitas penelusuran informasi, yaitu memberikan bimbingan kepada para pengindeks dan penelusur informasi tentang istilah-istilah mana yang harus digunakan (Dr. E. John Leide. Ph.D., 2002 : 1). Tesaurus adalah bagian utama dari pengawasan kosakata dengan membatasi kosakata akan memudahkan dalam memperkirakan kata-kata apa saja yang mungkin digunakan untuk mengindeks sebuah konsep.

 

Tujuan Tesaurus

Aitchison, Gilchrist dan Bawden berpendapat bahwa tujuan utama tesaurus adalah untuk temu kembali informasi. Tujuan sekundernya meliputi membantu pemahaman secara umum bidang subyek, menyediakan peta semantik dengan menunjukkan hubungan resiprokal dari istilah, dan membantu menyediakan definisi istilah. NISO yang diakreditasi oleh American National Standards Institute (ANSI) untuk membuat standar dalam bidang ilmu informasi dan perpustakaan, menyebutkan ada 4 tujuan dasar, yaitu :

  1. Translasi, yaitu untuk menyediakan jalan tengah untuk menerjeraahkan bahasa alamiah dari pengarang, pengindeks dan pemakai ke dalam kosa kata indeks yang digunakan dalam pengindeksan dan temu kembali;
  2. Konsistensi, yaitu untuk menjaga konsistensi dalam penetapan descriptor;
  3. Indikasi hubungan, yaitu untuk mengindikasikan hubungan semantik antaristilah;
  4. Temu kembali, yaitu sebagai alat bantu penelusuran dalam temu

Adapun Chowdury membagi tujuan tesaurus menjadi 4, yaitu:

  1. Mengawasi istilah yang digunakan dalam pengindeksan dengan menyediakan cara penerjemahan bahasa alamiah pengarang, pengindeks, dan pemakai ke dalam bahasa yang digunakan untuk pengindeksan dan temu kembali;
  2. Memastikan kekonsistenan antara pengindeks yang berbeda;
  3. Membatasi jumlah istilah yang diberikan pada dokumen sebagai representasi subyekdokumen;
  4. Sebagai alat bantu dalam temu kembali, termasuk temu kembali dalam sistem free-text.

Bahan Pustaka

Bahan Pustaka merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah system perpustakaan selain ruangan atau gedung, peralatan atau perabot, tenaga dan anggaran. Unsur-unsur tersebut satu sama lain saling berkaitan dan saling mendukung untuk terselenggaranya layanan perpustakaan yang baik. Bahan pustaka yang antara lain berupa buku, terbitan berkala (surat kabar dan majalah), serta bahan audiovisual seperti audio kaset, video, selid, dan sebagainya.

Berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan (SNI) kegiatan pengorganisasian dimulai dengan mendeskripsikan bahan pustaka, diklasifikasi, diberi tajuk subjek dan disusun secara sistematis dengan pedoman yang berlaku secara nasional dan/atau internasional. Jadi pengorganisasian bahan pustaka bias penulis artikan sebagai suatu proses yang dilakukan untuk mengatur bahan pustaka agar sistematis dan mudah diakses oleh pengguna. Adapun kegiatan dalam pengorganisaian bahan pustaka ialah sebagai berikut:

  1. Klasifikasi

Klasifikasi merupakan pengelompokkan bahan-bahan pustaka berdasarkan ciri-ciri yang sama mulai dari subjek, bentuk, warna agar memudahkan pemustaka dalam pencarian dan penenpatan kembali bahan pustaka. Dengan adanya klasifikasi perpustakaan, bahan pustaka akan tersusun secara sistematis sehingga memudahkan pemustaka dan pustakawan untuk menemukan dan menempatkannya kembali.

  1. Katalogisasi

Salah satu kegiatan pokok dalam pengelolaan perpustakaan adalah katalogisasi, yaitu proses pengolahan data-data bibliografis yang terdapat dalam bahan-bahan perpustakaan untuk menjadi katalog. Katalog disusun secara sistematis dan menunjukkan lokasi bahan tersebut disimpan yang mana dalam katalog tersebut memuat semua informasi penting mengenai bahan pustaka. Tujuan utama diadakannya katalog perpustakaan adalah untuk memudahkan pemustaka mendapatkan bahan pustaka yang diinginkan. Fungsi katalog perpustakaan adalah mempermudah pemustaka mencari informasi yang diketahui, baik berdasarkan nama pengarang, judul buku dan subjek buku. Katalog juga berfungsi untuk menunjukkan koleksi yang dimiliki perpustakaan.

  1. Deskripsi Bibliografi

Deskripsi bibliografi merupakan uraian data yang terdapat dalam bahan pustaka. Seperti kita ketahui, katalog berisi sejumlah keterangan yang berasal dari bahan pustaka yang diwakilinya. Pencantuman data bibliografis di dalam sebuah katalog tidak bisa dilakukan sembarangan pengatalog harus mengikuti aturan-aturan yang sudah distandarkan. Peraturan tersebut diatur dalam International Standard Bibliographic Descriptin (ISBD) dan entri-entri katalog disusun berdasarkan Anglo American Cataloguing Rules, Revised Edition 2 (AACR-2).

  1. Penentuan Tajuk Entri

Tajuk merupakan titik akses pertama pada katalog ketika mencari buku-buku koleksi perpustakaan. Entri merupakan suatu kesatuan informasi bibliografi dalam katalog. Entri utama merupakan entri yang dibuat pertama kali sebagai dasar pembuatan entri-entri lain. Sedangkan entri tambahan merupakan entri-entri lain yang dibuat berdasarkan entri utama. Entri tambahan dapat berupa entri tambahan pengarang kedua, pengarang ketiga, editor, penerjemah, dan sebagainya. Tajuk entri utama (TEU) berarti tajuk yang terdapat pada awal suatu entri utama. Sedangkan tajuk entri tambahan (TET) berarti tajuk yang terdapat pada awal suatu entri tambahan.

  1. Analisi Subjek

Analisis subyek bukan diartikan sebagai analisis tentang subyek subyek atau bidang-bidang pengetahuan secara menyeluruh, melainkan lebih kepada Analisis suatu isi subyek dari suatu dokumen secara individual, yakni the analysis of subject as they are expressed in documents . Analis subyek harus menyeleksi dan memberikan nama-nama konsep subyek sesuai dengan subyek yang diungkapkan oleh peminta. Analisis subyek juga perlu berfikir ke arah isi subyek yang sesuai dengan yang ada dalam dokumen. Isi subyek dalam dokumen terdiri atas sejumlah konsep atau ide.

Di dalam analisis subyek dari dokumennya, seorang pengindeks memilih konsep-konsep yang akan digunakan di dalam deskripsi indeks dari dokumen dengan maksud agar identifikasi dan penelusurannya bisa menjawab pertanyaan atau permintaan akan konfirmasi. Dalam membuat atau mengkonsionalkan subyek ini, seorang pengindeks menganalisis dengan cara menyebutkan atau menamai konsep-konsep terpilih dalam kata-kata atau istilah apa saja yang dipilihnya.

  1. Sistem Temu Kembali Informasi

Sulistiyo-Basuki (1992: 132), mengungkapkan bahwa sistem temu balik informasi adalah sejumlah kegiatan yang bertujuan menyediakan dan memasok informasi bagi pengguna sebagai jawaban permintaan pengguna. Sistem temu balik informasi meliputi penyimpanan, penyedian, referesentasi, identifikasi, dan pencarian dokumen yang relevan pada pangkalan data untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakai. Maksud dan tujuan informasi adalah untuk memanggil dokumen-dokumen atau informasi masyarakat pengguna (Hasugian, 2001: 6). Unsur utama pada setiap sarana temu kembali, baik yang susunannya menurut abjad istilah maupun yang menurut kelas berdasarkan urutan notasi, adalah bahasa. Permintaan pengguna dan koleksi yang tersedia, keduanya menggunakan bahasa. Karena itu, setiap pencocokan permintaan dan koleksi perpustakaan melibatkan bahasa. Tetapi sarana temu kembali tidak dapat semata-mata mengandalkan penggunaan bahasa secara umum. Modifikasi diperlukan, baik yang berkaitan dengan kosa kata maupun sintaksis, sehingga harus diciptakan bahasa terkendali, yaitu bahasa indeks.

Bahasa Indeks, Indexing Language (Controlled vocabulary atau kosakata terkendali) adalah Daftar istilah atau notasi yang dapat digunakan sebagai titik temu (access point) dalam suatu indeks, dan sarana-sarana yang dapat menunjukkan hubungan antar istilah. Bahasa indeks ada 3 jenisnya, yaitu skema klasifikasi, daftar tajuk subjek, dan tesaurus. Skema klasifikasi dan daftar subjek merupakan bahasa indeks tradisional yang biasa digunakan dalam system pralaras (precoordinated sytem) seperti katalog tradisional, bibliografi dan indeks cetak. Sedangkan thesaurus diciptakan setelah Perang Dunia II, terutama digunakan dalam sistem pascalaras (postcoordinated system) seperti katalog pada disk komputer.

 

Jenis Bahan Pustaka

Jenis bahan pustaka ada 2, yaitu :

  1. Karya cetak. Diantaranya adalah buku, terbitan berseri.
  2. Karya non cetak. Diantaranya adalah rerkaman suara, film, rekaman video, bahan grafika (filmstrip, slide, transparansi), bahan kartografi, bentuk mikro (microfilm, mikrofis, aperture card, microfilm cartridge, microfilm jackets), sumber daya elektronik.

 

Garis Besar Proses Pengkatalogan dalam Bahan Pustaka

j

Kegiatan pengatalogan secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kegiatan, yaitu :

  1. Pengatalogan deskriptif, yang bertumpu pada fisik bahan pustaka (judul, pengarang, impresum, kolasi, catatan dll), kegiatannya berupa membuat deskripsi bibliograi, menentukan tajuk entri utama dan tambahan, pedomannya antara lain AACR dan ISBD;
  2. Pengindeksan subyek, yang berdasar pada isi bahan pustaka (subyek atau topik yang dibahas), mengadakan analisis subyek dan menentukan notasi klasifikasi, pedomannya antara lain bagan klasifikasi, daftar tajuk subyek dan Kedua kegiatan ini menghasilkan cantuman bibliografi atau sering disebut katalog yang merupakan wakil ringkas bahan pustaka.

Dalam penentuan subyek buku atau bahan pustaka lainnya diperlukan analisis subyek yang akurat dengan dibantu sarana daftar tajuk subyek komprehensif, sedangkan dalam katalogisasi proses pembuatan tajuk subyek disebut mengkatalog subyek. Pengatalogan subjek bertujuan menggunakan kata-kata (istilah) yang seragam untuk bahan pustaka perpustakaan mengenai subyek tertentu.

Tajuk Subjek diarahkan untuk menggunakan istilah yang tetap untuk menyatakan konsep yang sama, meskipun banyak istilah padanannya. Sedangkan berstruktur karena ada kaitan antara tajuk yang satu dengan tajuk yang lain, sesuai dengan struktur ilmu dan pengetahuan. Tajuk subjek biasanya dicantumkan pada bagian awal entri katalog yang disusun dalam katalog subyek berabjad, baik dalam katalog bentuk kartu seperti yang telah dijelaskan pada awal pembahasan, bentuk buku, bentuk mikro, maupun OPAC (Online Public Access Katalog).

 

Katalog Perpustakaan

Katalog berasal dari bahasa Latin “catalogus” yang berarti daftar barang atau benda yang disusun untuk tujuan tertentu. Beberapa definisi katalog menurut para ahli ilmu perpustakaan dapat disebutkan sebagai berikut :

  1. Katalog adalah daftar buku dalam sebuah perpustakaan atau dalam sebuah koleksi yang disusun menurut prinsip (Sulistyo-Basuki,1991 : 315)
  2. Katalog perpustakaan adalah susunan yang sistematis dari seperangkat cantuman bibliografis yang merepresentasikan kumpulan dari suatukoleksi Koleksi tersebut terdiri dari berbagai jenis bahan, seperti buku, terbitan berkala, peta, rekaman suara, gambar, notasi musik, dan sebagainya (Taylor 1992, 6).
  3. Katalog adalah suatu daftar dari, dan indeks ke, suatu koleksi buku dan bahan lainnya.(Hunter, 1991:1) .
  4. Katalog perpustakaan adalah suatu daftar yang sistematis dari buku dan bahan bahan lain dalam suatu perpustakaan, dengan informasi deskriptif mengenai pengarang, judul, penerbit, tahun terbit, bentuk fisik, subjek, ciri khas bahandan tempatnya. (Gates, 1989: 62)

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa katalog perpustakaan merupakan daftar dari koleksi perpustakaan atau beberapa perpustakaan yang disusun secara sistematis, sehingga memungkinkan pengguna perpustakaan dapat mengetahui dengan mudah koleksi apa yang dimiliki oleh perpustakaan dan dimana koleksi tersebut dapat ditemukan.

 

Tujuan Dan Fungsi Katalog Perpustakaan

Seperti dikemukakan di atas, katalog adalah daftar bahan pustaka yang dikoleksi oleh perpustakaan tertentu, yang merupakan wakil bahan pustaka tersebut dan disusun secara sistematis (berabjad, berkelas) yang bertujuan untuk membantu para pemakai jasa perpustakaan dalam menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan. Melalui katalog tersebut maka tujuan pemakai untuk dapat dengan mudah dan cepat menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan dapat tercapai.

Adapun tujuan katalog seperti dikemukakan pertama sekali pada tahun 1867 oleh Cutter, dalam Sulistyo-Basuki, (1991 : 316) adalah :

  1. Memungkinkan seseorang menemukan sebuah bahan pustaka yang diketahui berdasarkan pengarang, judul atau subyeknya;
  2. Menunjukkan bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan oleh pengarang tertentu, dalam subyek tertentu, atau dalam bentuk literature tertentu; dan
  3. Membantu memilih bahan pustaka berdasarkan edisinya atau

Tujuan pertama dari uraian diatas memberi penekanan yang luas akan fungsi perpustakaan bahwa katalog perpustakaan merupakan sarana alat bantu yang dapat digunakan oleh pengguna untuk menemukan bahan pustaka yang diinginkan dengan berdasarkan pengarang, judul atau subjek. Tujuan kedua adalah memberi penekanan bahwa katalog perpustakaan dapat menginformasikan koleksi apa saja yang dimiliki oleh sebuah perpustakaan sedangkan tujuan yang ketiga adalah katalog perpustakaan dapat membantu pengguna memilih sebuah buku berdasarkan edisi atau karakternya.

Dari uraian diatas jelas bahwa fungsi dari pembuatan katalog perpustakaan pada umumnya adalah :

  1. Sebagai alat pengumpul atau “assembling list”, yang fungsinya mencatat, mendaftar atau mengumpulkan setiap koleksi yang ada di perpustakaan dibawah entri-entrinya.
  2. Sebagai alat pencari atau penelusur (“finding list”), yang membimbing pemakai untuk mencari dan menelusuri koleksi yang dicari dibawah entri-entri dari koleksi atau karya
  3. Sumber yang memberikan alternatif pilihan
  4. Memberikan petunjuk dimana buku disusun dalan
  5. Sumber penyusunan

Dari tujuan dan fungsi inilah nampak betapa pentingnya katalog perpustakaan, karena katalog merupakan kunci bagi koleksi suatu perpustakaan.

 

Kelebihan OPAC dari Katalog Manual Lainnya

Seiring perkembangan informasi yang semakin pesat bentuk katalog di perpustakaan mengalami banyak perubahan, hal ini nampak jelas pada bentuk fisik dari katalog. Berikut ini bentuk katalog perpustakaan dari dulu sampai sekarang yang digunakan sejumlah perpustakaan antara lain adalah :

  1. KatalogBentuk Buku adalah katalog tercetak berbentuk buku dimana terdapat sejumlah entri pada setiap halamannya.
  2. Katalog Berkas merupakan katalog yang berbentuk lembaran-lembaran lepas, dapat dibuat dari bahan kertas manila atau kertas biasa kemudian dijadikan satu dan dijilid dengan menyediakan tempat renggang untuk penambahan katalog di masa yang akan datang.
  3. Katalog Kartu merupakan katalog dimana media penulisannya menggunakan kartu dengan ukuran 7,5×12,5cm, memuat satu entri, dan disusun secara sistematis.
  4. Katalog Berbentuk Micro bentuknya ringkas dan mudah dalam penyimpanan.
  5. Katalog bentuk computer terpasang (OPAC)

Pada dasarnya katalog online (OPAC) dan katalog manualnya sama-sama berfungsi sebagai alat penelusuran informasi di perpustakaan. Namun diantara katalog manual dan OPAC terdapat perbedaan antara lain adalah sebagai berikut :

kh

kh1

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap perpustakaan wajib memiliki dan menyediakan katalog perpustakaan baik itu katalog konvensional (berbentuk kartu) maupun katalog online (OPAC) sebagai media temu balik informasi. Keberadaan katalog perpustakaan sangat diperlukan karena perpustakaan tanpa katalog hanya sebatas kumpulan koleksi dimana pengguna tentu akan mengalami kesulitan dalam menemukan bahan pustaka yang ada di perpustakaan. Pada prinsipnya katalog adalah suatu daftar yang mewakili koleksi yang dimiliki sebuah perpustakaan yang disusun menurut sistem tertentu secara alfabetis untuk memudahkan pengguna menemukan informasi yang dibutuhkan.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Perpustakaan sebagai pusat informasi berorientasi untuk mendistribusikan tersebut adalah melalui penelusuran atau temu kembali informasi yang dilakukan oleh pengguna. Penelusuran atau sistem temu balik informasi merupakan hal penting yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah perpustakaanan karena tanpa sistem temu balik informasi, pengguna akan mengalami kesulitan mengakses sumber daya informasi yang tersedia di perpustakaan. Oleh karena jenis dan jumlah informasi sangat banyak maka untuk mempermudah pemakai dalam menelusuri informasi yang dibutuhkan, diperlukan suatu sarana untuk membantu penelusuran. Sistem temu kembali informasi berfungsi sebagai perantara kebutuhan informasi pengguna dengan sumber informasi yang tersedia.

Tajuk subjek adalah kata atau kumpulan kata yang menunjukkan subjek sebuah buku (Sulistyo Basuki, 2010 : 6.33). Tujuan dari tajuk subjek adalah mendaftarkan di bawah satu kata atau frase yang seragam semua bahan pustaka tentang satu subjek tertentu yang dimiliki oleh perpustakaan guna mempermudah dalam penelusuran informasi. Bahan pustaka yang antara lain berupa buku, terbitan berkala (surat kabar dan majalah), serta bahan audiovisual seperti audio kaset, video, selid, dan sebagainya. Berdasarkan Standar Nasional Perpustakaan (SNI) kegiatan pengorganisasian dimulai dengan mendeskripsikan bahan pustaka, diklasifikasi, diberi tajuk subjek dan disusun secara sistematis dengan pedoman yang berlaku secara nasional dan/atau internasional.

Adapun tesaurus sebagai suatu sarana temu kembali, atau yang disebut juga sebagai tesaurus yang terstruktur, menampilkan hubungan semantik antar istilah. Sarana ini dikonstruksi untuk membantu proses pengindeksan dan temu kembali. Tesaurus adalah alat untuk pengawasan kosakata (vocabulary control). Tesaurus berfungsi untuk membant meningkatkan kualitas penelusuran informasi, yaitu memberikan bimbingan kepada para pengindeks dan penelusur informasi tentang istilah-istilah mana yang harus digunakan (Dr. E. John Leide. Ph.D., 2002 : 1). Tajuk subjek biasanya dicantumkan pada bagian awal entri katalog yang disusun dalam katalog subyek berabjad, baik dalam katalog bentuk kartu seperti yang telah dijelaskan pada awal pembahasan, bentuk buku, bentuk mikro, maupun OPAC (Online Public Access Katalog). Melalui katalog tersebut maka tujuan pemakai untuk dapat dengan mudah dan cepat menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan dapat tercapai.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Leide, John E. (2002). Pedoman Penyusunan Tesaurus. Jakarta: Departemen Agama RI.
  2. Tairas, J.N.B dan K, Soekarman. (2008). Daftar Tajuk Subjek Untuk Perpustakaan Edisi Ringkas. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
  3. Piliang, M. (2013). “Sistem Temu Kembali Informasi Dengan Mendayagunakan Media Katalog Perpustakaan”. Jurnal Iqra’. 07 (02), 1-8. Tersedia: [26 Mei 2016 Pukul 10.09 WIB]
  4. Pandu Prakasa, Arya. (2008). Konstruksi Teaurus Korupsi Dengan Pendekatan Literary Warrant. FIB UI: tidak diterbitkan. Tersedia: [26 Mei 2016 Pukul 10.00 WIB]
  5. Ali Akbar, M. (2015). Pengorganisasian Bahan Pustaka. [Online]. Tersedia: akbarlibrary.blogspot.com/2015/10/pengorganisasian-bahan-pustaka.html?m=1 [27 Mei 2016]
  6. Hesti Pramudya Wardani, Asiyah. (2014). Perpustakaan Sebagai Sarana Temu Balik Perpustakaan. [Online]. Tersedia: hestpramoedya.blogspot.com/2014/05/perpustakaan-sebagai-sarana-temu-balik.html?m=1 [27 Mei 2016]
  7. Eko Pratomo, Deni. (2015). Sistem Temu Kembali Informasi. [Online]. Tersedia: seputar-info-it.blogspot.com/2015/03/sistem-temu-kembali-informasi.html?m=1 [27 Mei 2016]